1. GERAKAN GURU PADA MASA PERJUANGAN KEMERDEKAAN.
Zaman ini adalah Zaman Penjajahan Belanda. Ada bermacam-macam sekolah yang diperuntukan bagi Gol. Tertentu. Misalnya: SEKOLAH DESA/RAKYAT (VOLKSSCHOOL) UNTUK MASYARAKAT DESA
SEKOLAH DASAR ANGKA II (TWEEDE INLANDSE SCHOOL) UNTUK RAKYAT BIASA DI KOTA-KOTA
SD BERBAHASA BELANDA UNTUK ANAK ANAK PRIYAYI / PEGAWAI PEM. HB (100 GULDEN)
Guru juga begitu, tamatannya bermacam-macam, yaitu
1) SEKOLAH GURU DESA
2) NORMAL SCHOOL (NS)
3) KWEEK SCHOOL (KS)
4) HOGERE KWEEK SCHOOL (HKS)
5) HOLLANDS-INLANDSE KWEEKSCHOOL (HIK)
6) EUROPESE-KWEEK SCHOOL (EKS)
7) INDISCHE HOOFDACTE
PGHB (Persatuan Guru Hindia Belanda) Tahun 1912. Tujuannya mereka menuntut perbaikan nasib, kedudukan yang wajar, dan adil
PGHB punya sifat Unitaristik (sama dengan PGRI sekarang). --1)ANGGOTANYA TERDIRI DARI GURU BANTU, GURU DESA, KEPSEK, PENILIK SEKOLAH
2) KONDISI SOSPOL SAAT ITU MEMPERSULIT TERCIPTANYA KESATUAN BAHASA DALAM PERJUANGAN GURU
3) TIDAK MUDAH PGHB MEMPERJUANGKAN NASIB PARA ANGGOTANYA DENGAN PERBEDAAN :
PANGKAT
STATUS SOSIAL
LATAR BELAKANG IJAZAH
2. Lahirnya PGRI
LAHIRNYA PGRI itu 100 hari setelah Proklamasi waktu kongres 1 Guru, tempatnya di Surakarta. SEMUA BENTUK PERPECAHAN ANTAR KELOMPOK
GURU, KARENA:
- PERBEDAAN IJAZAH,
- LINGKUNGAN DAERAH,
- ALIRAN POLITIK,
- AGAMA, SUKU,
SEPAKAT DIHAPUSKAN MEREKA SERENTAKBERSATU, UNTUKMENGISI KEMERDEKAAN DENGAN 3 TUJUAN, apa saja?
1)MEMPERTAHANKAN-MENYEMPURNAKAN KEMERDEKAAN (PGRI=ORGANISASI PELOPOR + PEJUANG)
2)MEMPERTINGGI TINGKAT PENDIDIKAN + PENGAJARAN SESUAI DENGAN DASAR KERAKYATAN (SESUAI TUPOKSIRAN PGRI)
3)MEMBELA HAK + NASIB BURUH (UMUMNYA) + GURU (KHUSUSNYA) SESUAI PGRI SEBAGAI WAHANA MENINGKATKAN PERJUANGAN PERBAIKAN NASIB PARA ANGGOTA
3. PGRI pada Masa Perang Kemerdekaan
PGRI PADA MASA PERANG KEMERDEKAAN (1945-1949). Walaupun sudah merdeka, tapi tetap harus dipertahankan. para guru fokus pada perjuangan fisik bersenjata, mereka ikut panggul senjata, PMI, penggerak dapur umum...jadi jangan salah,,guru guru selain mengajar juga pada saat itu ikut panggul senjata (wah ini kalau dibayangin keren banget ya mereka)
1. PGRI pada Masa Demokrasi Liberal (1950-1959)
- Kongres ke-4 di Yogyakarta (Februari 1950), banyak cabang2 SGI bergabung ke PGRI
- Kongres ke-5 (Desember 1950 Bandung), merupakan kongres "persatuan"... Pancasila dijadikan sbg asas organisasi... Dibentuk pula susunan pengurus..
- Kongres ke-6 (November 1952 Malang), beberapa kesepakatan dlm kongres ini: diadakan hari pendidikan nasional, penentuan asas PGRI yg berkeadilan sosial dan demokrasi.
- Kongres ke-7 (des 1954 di Semarang), utk pertama kalinya kongres PGRI dihadiri oleh tamu luar negeri.. membahas ttg UU Pokok kepegawaian, pendidikan agama.
- Kongres ke-8 ( 1956, Bandung), polemik dimasukannya pencak silat dalam pendidikan jasmani.
2. PGRI pada Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Pada kongres IX di Surabaya bulan oktober /November 1959,soebandri dkk.Melancarkan politik adudomba diantara para kongres, terutama pada waktu pemilihan Ketua Umum.Usaha tersebut tidak berhasil, ME.Sugiadinata terpilih lagi sebagai Ketua Umum BP PGRI
3. GRI Sejak Lahirnya Orde Baru 1967-1998
Sejak lahirnya orde baru hingga berakhir era ini. Periode ini sebagai “tahap stabilitasi dan pertumbuhan” setelah organisasi ini selamat dari ujian berat dan kemudian menemukan momentum pertumbuhannya yang baru. Sebagai komponen orde baru , PGRI menikmati masa-masa perkembangan dan stabilitas dan kekohesifan pada interen organisasi. Stabilitas ini secara simbolis direpresentasikan antara lain pada pengurusnya. Setelah melewati empat periode kepemimpinan dibawah M.E Subiadinata sebagai ketua umum PB-PGRI (1956-1969) yang diselingi oleh slamet I menyusut wafatnya M.E subiadinata tahun 1969 PB PGRI dipimpinoleh Basyuni Surimiharja selama enam periode (1970-1998).
Tahap stabilitasi dan pertumbuhan diwujudkan antara lain:
1. Kesatuan Aksi Guru Indonesia
2. Konsolidasi organisasi pada Awal Orde Baru
3. Arti Lambang PGRI
4. Berdirinya YPLP-PGRI dan Wisma Guru
5. Refleksi tentang Masa Depan PGRI
4. PGRI Pada Masa Reformasi
PGRI dan Guru Masa KiniMembangun sekolah yang berkinerja tinggi merupakan tantang nyata yang harus dihadapi oleh semua warga sekolah. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, tenaga administrasi, komite sekolah, termasuk siswa dituntut bahu membahu menjawab tantangan tersebut. Sekolah tidak bisa optimal berkinerja tanpa semua pihak saling berkerja sama serta saling menunjang dalam semangat kebersamaan dan kesejawatan.
Sekolah berkinerja tinggi adalah sekolah yang mampu menghasilkan keluaran berupa:
- Proses pembelajaran yang efektif
- Siswa dan guru yang berprestasi tinggi baik akademik maupun non akademik
- Tingkat kehadiran warga sekolah tinggi
- Pelayanan akademik dan administratif yang optimal pada semua warga sekolah
- Iklim dan budaya sekolah yang positif dan dinamis
- Etos kerja warga sekolah yang tinggi
- learning organization
- Hubungan antar pribadi yang harmonis
- Tata kelola sekolah yang baik
Comments
Post a Comment